Panduan Toko Online
Berapa Sebenarnya Biaya Jualan Anda di Marketplace?
Banyak penjual di Kabupaten Bogor tahu omzetnya bulan lalu. Jauh lebih sedikit yang tahu berapa yang benar-benar mampir ke rekening. Selisih keduanya bukan misteri. Semuanya tercatat, hanya tersebar di beberapa baris yang jarang dijumlahkan.
Kalau Anda berjualan dari Cileungsi, Cibubur, atau Gunung Putri, biaya jualan Anda hampir seluruhnya proporsional: makin besar penjualan, makin besar potongannya. Itu terasa wajar saat omzet masih kecil. Terasa lain sekali ketika omzet sudah puluhan juta.
Empat baris yang perlu dijumlahkan
Buka laporan penyelesaian dana Anda, bukan dashboard omzet, tapi rincian per pesanan. Cari empat hal ini:
- Biaya administrasi atau komisi platform. Dipotong dari harga barang, bukan dari laba Anda.
- Biaya layanan per transaksi. Kecil per pesanan, dan justru karena itu mudah luput.
- Program gratis ongkir. Sebagian subsidinya ditanggung penjual. Ini yang paling sering mengejutkan.
- Iklan dan promosi. Bukan biaya wajib, tapi coba matikan sebulan lalu lihat apa yang terjadi pada pesanan. Kalau turun tajam, itu bukan biaya opsional, itu biaya sewa lalu lintas.
Persentasenya berbeda-beda: tergantung kategori, status penjual, dan program yang Anda ikuti, dan aturannya diperbarui berkala. Karena itu jangan pakai angka dari artikel mana pun, termasuk artikel ini. Pakai angka Anda sendiri. Ketentuan resminya ada di halaman biaya penjual Shopee dan komisi platform Tokopedia.
Kerangka hitungnya
Ambil tiga bulan terakhir, lalu isi tabel ini. Tiga bulan, bukan satu, supaya bulan ramai dan bulan sepi ikut terhitung.
| Baris | Sebulan |
|---|---|
| Omzet bruto | Rp 42.000.000 |
| Komisi atau biaya administrasi | - Rp ? |
| Biaya layanan transaksi | - Rp ? |
| Bagian subsidi gratis ongkir | - Rp ? |
| Iklan dan promosi | - Rp ? |
| Masuk rekening | Rp ? |
Sekarang bandingkan dengan biaya toko sendiri, yang bentuknya berbeda: hosting dan domain per bulan, biaya payment gateway per transaksi, dan ongkir yang Anda tetapkan sendiri. Yang pertama tetap. Yang kedua kecil. Tidak ada yang tumbuh seiring omzet.
Biaya marketplace naik seiring keberhasilan Anda. Biaya toko sendiri tidak. Itulah seluruh pokok persoalannya.
Titik ketika angkanya berbalik
Penjual dengan omzet dua juta sebulan hampir pasti lebih baik di marketplace: potongannya kecil dan lalu lintasnya gratis. Penjual dengan omzet empat puluh juta sebulan sedang membayar sewa yang jauh melebihi biaya menjalankan toko sendiri, sering berkali-kali lipat.
Titik baliknya berbeda untuk setiap orang, dan Anda hanya bisa menemukannya dengan angka Anda sendiri. Tapi begitu tabel di atas terisi, jawabannya biasanya tidak ambigu.
Yang jujur harus disebut: lalu lintas
Marketplace memberi satu hal yang toko sendiri tidak: orang yang belum mengenal Anda. Itu nyata, dan siapa pun yang menyarankan Anda menutup toko marketplace besok pagi sedang menjual sesuatu.
Tapi perhatikan pembeli Anda yang membeli kedua, ketiga, kelima. Mereka tidak menemukan Anda lewat pencarian. Mereka sudah tahu nama Anda. Untuk mereka, komisi yang Anda bayar tiap kali adalah biaya perkenalan yang sudah lama tidak dibutuhkan lagi.
Pola yang masuk akal bukan pindah, tapi membagi: marketplace tetap untuk pembeli baru, toko sendiri untuk pembeli yang kembali. Nomor WhatsApp di dalam paket, tautan di bio Instagram, kartu ucapan dengan alamat toko Anda. Pembeli yang kembali lewat pintu Anda sendiri tidak dipotong siapa pun.
Langkah pertama yang tidak berisiko
Isi tabel di atas untuk tiga bulan terakhir. Kalau selisihnya kecil, Anda sudah tahu jawabannya dan tidak perlu berbuat apa-apa. Kalau selisihnya besar, Anda baru saja menemukan anggaran untuk toko Anda sendiri, dan Anda tidak perlu menutup apa pun untuk mulai.
Toko demo kami terbuka di store.podkode.net, lengkap dengan panel pengelolanya. Tidak perlu mendaftar untuk melihat-lihat, dan rinciannya ada di halaman Podkode Store.